PENILAIAN
HASIL BELAJAR KIMIA
Penilaian hasil belajar
kimia adalah suatu disiplin
ilmu pendidikan kimia, yang mengupas masalah perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan penilaian hasil belajar kimia.
Menurut
Mulyasa, pembelajaran merupakan proses yang sengaja direncanakan dan dirancang
sedemikian rupa dalam rangka memberikan bantuan bagi terjadinya proses. Sukses
atau tidaknya proses pembelajaran diukur dengan hasil belajar. Hasil belajar
merupakan ukuran kemampuan siswa dalam menerima informasi pembelajaran yang
diukur dari tiga sudut pandang, kognitif; afektif; dan psikomotorik. Hasil
belajar juga bisa dipandang sebagai tingkat keberhasilan pembelajaran yang
dinamakan nilai. Teknik untuk menentukan keberhasilan pembelajaran dinamakan
penilaian. Penilaian dapat dilakukan dengan teknik tes atau teknik nontes.
Teknik tes yang umum dilakukan di sekolah adalah tes tertulis yang dinamakan
ulangan harian. Bentuk ulangan harian bisa pilihan ganda (tes obyektif) dan tes
uraian (essay). Teknik nontes yang biasa digunakan di sekolah adalah observasi
dan proyek untuk menghasilkan produk pembelajaran. Penilaian dan hasil belajar
dihubungkan dengan batasan angka untuk menentukan kelulusan siswa dalam
penilaian yang dinamakan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Penentuan KKM
merupakan hak prerogatif tim guru mata pelajaran yang menggunakan kriteria
kompleksitas materi pelajaran, daya dukung lingkungan belajar, dan intake siswa
yang mengikuti pembelajaran.
Pembelajaran
kimia merupakan salah satu contoh proses interaksi antara guru dan siswa di
dalam kelas yang mendiskusikan mata pelajaran yang membahas tentang materi, perubahannya,
dan dinamika yang menyertainya. Melalui proses ini, ilmu pendidikan dan
pengajaran kimia dapat dikembangkan dengan melakukan pembelajaran dan juga
penelitian di bidang metode pembelajaran, media pembelajaran, instrumen dan
teknik penilaian, model pembelajaran, dan lain sebagainya. Metode pembelajaran
dan teknik penilaian adalah bidang yang menarik untuk dikaji karena kedua
bidang ini sangat variatif dan mengikuti perkembangan jaman. Interaksi antara
guru dan siswa dapat direncanakan dan dirancang dengan metode pembelajaran yang
sangat menentukan bentuk interaksi kedua komponen pembelajaran ini. Pengukuran
ketercapain target pembelajaran ditentukan oleh teknik penilaian yang
dilakukan.
Hasil belajar dapat berupa
pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap. Pengetahuan teoretis dapat
dinilai dengan instrumen penilaian soal tertulis atau lisan, keterampilan dapat
dinilai dengan soal tindakan, sedangkan perubahan sikap dan pertumbuhan peserta
didik hanya dapat dinilai dengan teknik penilaian non-ujian
Pada
penelitian yang saya dapat dari Lantanida Journal, Vol. 3 No. 1, 2015 bahwa Hasil
belajar siswa diukur dengan menggunakan ulangan harian. Soal yang digunakan
adalah soal essay yang terdiri dari 8 soal yang mengacu pada kurukulum standar
isi. Soal essay digunakan karena soal ini mampu mengukur kedalaman pemahaman
siswa tentang konsep yang dipelajari, membudayakan siswa untuk berpikir logis dan
argumentatif, mencegah siswa melakukan spekulasi dalam memberikan jawaban saat
tes, dan dijadikan tolok ukur evaluasi proses pembelajaran yang lebih rinci
daripada soal pilihan ganda.
Teknik penilaian non-ujian terutama
dipakai untuk menilai hasil belajar pada kompetensi afektif, yang berupa
perubahan sikap, minat, nilai, dan konsep diri. Teknik penilaian non-ujian juga
dipakai untuk menilai hasil belajar pada kompetensi kognitif dan kompetensi
psikomotor. Teknik penilaian non-ujian berupa teknik penilaian observasi,
teknik penilaian wawancara, dan teknik penilaian angket. Instrumen penilaian
non-ujian dapat berupa pedoman observasi, daftar cek, dan skala lajuan
untuk teknik observasi. Instrumen pedoman wawancara untuk teknik
wawancara. Instrumen lembar angket dan skala sikap untuk teknik angket.(
Diposting oleh Al-Chemist Ungu
Belajar
kimia itu tidak sama dengan kita belajar bahasa inggris, jadi sebelum mengajar
siswa, maka guru harus mengetahui sikap siswa, bagaimana dia menyukai pelajaran
tersebut, karena sering terjadi siswa SMA tidak begitu menyukai pelajaran
kimia, maka dari itu, buatlah metode yang menyenangkan bagi siswa agar tertarik
dalam belajar kimia.
Jadi,
menurut saya pribadi dalam penilaian hasil belajar kimia, maka diharapkan
tujuan yang dibuat harus tercapai, serta dalam penilaiannya pun digunakan rubric
penilaian agar tidak salah (lebih sesuai) dan untuk mendapatkan hasil belajar
yang baik,maka harus dilihat metode yang akan digunakan nantinya, karena jika
metodenya tidak mendukung atau dengan kata lain tidak bisa disampaikan kepada
siswa, maka tujuannya pun akan sia-sia atau tidak tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar